Paper III. Kehidupan di Bumi
A. Asal mula kehidupan di bumi
Mike Russell, peneliti Jet Propulsion Laboratory National Aeronautics and Space Administration (NASA) dalam tiga makalah yang ikut ditulisnya, memaparkan bahwa kehidupan bermula dari ventilasi hidrotermal di dasar laut. Ia menuturkan bahwa cairan alkali di ventilasi hidrotermal, yang mengandung hidrogen dan metana berinteraksi dengan air laut purba yang mengandung karbondioksida sehingga menghasilkan asetat yang kemudian berkembang menjadi basis kehidupan.
Sejalan dengan Russell, seorang ilmuwan asal India bernama Sankar Chatterjee, yang merupakan profesor geografi dan dan kurator paleontologi di Museum of Texas Tech University, AS mengklaim bahwa meteor dan komet adalah pembawa material yang menciptakan kehidupan di Bumi. “Pada empat miliar tahun yang lalu, komet dan meteor secara reguler menabrak Bumi, sehingga menciptakan kawah besar berisi air dan dasar kimia untuk kehidupan,” tuturnya. Ia juga menuturkan bahwa ketika Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, lingkungannya sama sekali tidak ramah bagi organisme hidup. Namun, satu miliar tahun kemudian permukaannya dipenuhi air dan muncul kehidupan bagi mikroba. Chatterjee juga menguraikan bahwa kehidupan di Bumi ditentukan oleh 4 faktor : kosmik, geologi, kimia, dan biologi.
Dari hasil penelitian dari kedua ilmuwan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa asal mula kehidupan di Bumi berawal dari reaksi kimia yang mengakibatkan terciptanya organisme hidup. Air juga merupakan material yang menjadi faktor penting terpeliharanya organisme hidup tersebut. Hal tersebut memang masih belum terbukti secara akurat kebenarannya dan masih terus diteliti kembali hingga saat ini, namun kita sebagai manusia yang menjadi “penghuni” Bumi harus meyakini bahwa terciptanya kehidupan di Bumi adalah kuasa dari Tuhan. Tanpa ada kehendak-Nya maka kehidupan di Bumi tidak akan tercipta. Tugas kita sebagai manusia adalah memelihara Bumi agar kehidupan didalamnya tetap lestari.
B. Efek rumah kaca
Efek rumah kaca,
pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses
di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit
beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah
kaca. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek
rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca
ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan
global). Yang belakangan ini diterima oleh semua; yang pertama diterima
kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.
Ketika radiasi matahari tampak maupun
tidak tampak dipancarkan ke bumi, 10 energi radiasi matahari itu diserap oleh
berbagai gas yang ada di atmosfer, 34% dipantulkan oleh awan dan permukaan
bumi, 42% membuat bumi menjadi panas, 23% menguapkan air, dan hanya 0,023%
dimanfaatkan tanaman untuk perfotosintesis.
Malam hari permukaan
bumi memantulkan energi dari matahari yang tidak diubah menjadi bentuk energi
lain seperti diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman dalam bentuk radiasi
inframerah. Tetapi tidak semua radiasi panas inframerah dari permukaan bumi
tertahan oleh gas-gas yang ada di atmosfer. Gas-gas yang ada di atmosfer
menyerap energi panas pantulan dari bumi.
Sumber :
https://www.matadunia.id/2015/05/efek-rumah-kaca-dampak-efek-rumah-kaca.html
http://al-arthur.blogspot.com/2014/04/asal-mula-kehidupan-di-bumi.html
Komentar
Posting Komentar